Pengertian Tembang Macapat

pengertian tembang macapat – Tembang macapat merupakan keliru satu tembang atau lagu tempat yang paling terkenal di Jawa.

Tembang macapat merupakan tembang atau puisi tradisional Jawa yang menceritakan tahap-tahap kehidupan manusia. Filosofinya melukiskan berkenaan seorang manusia dari lahir, terasa studi di masa kanak-kanak, sementara dewasa, sampai kelanjutannya meninggal dunia.

Tembang atau tembung macapat sendiri membawa sebutan tembang cilik (kecil). Tembang macapat yang artinya lagu ini membawa karakteristik yang berlainan dari setiap jenisnya. Ciri-ciri selanjutnya diantaranya dari Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Bilangan (wilangan).

Sejarah Tembang Macapat

Macapat diperkirakan nampak terhadap akhir masa Majapahit dan dimulainya efek dari Walisanga. Bisa dikatakan ini untuk situasi di Jawa tengah, dikarenakan di Jawa timur dan Bali macapat sudah dikenal sebelumnya, lebih-lebih sebelum saat datangnya islam.

Sebagai contohnya yaitu sebuah teks dari Bali atau Jawa timur yang dikenal dengan judul Kidung Ranggalawe disebutkan sudah selesai ditulis terhadap th. 1334 Masehi. Di sisi lain tarikh ini disangsikan dikarenakan karya selanjutnya hanya dikenal versinya yang lebih mutakhir dan sari semua naskahnya yang berisi teks yang berasal dari Bali.

Mengenai umur macapat, terkandung dua pendapat yang berlainan lebih-lebih yang ada hubungannya dengan Kakawin atau puisi tradisional Jawa Kuna, mana yang lebih tua.  Prijohoetomo berpendapat bahwa macapat adalah turunan Kakawin dengan tembang Gedhe (besar) sebagai perantara.

Pendapat selanjutnya disangkal oleh Poerbatjaraka dan Zoetmulder. Menurut keduanya macapat ini sebagai metrum puisi asli Jawa yang lebih tua usianya daripada Kakawin. Karena itu macapat baru nampak sehabis efek India makin lama memudar.pengertian tembang macapat

Pengertian Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Bilangan.

•    Guru Gatra merupakan banyaknya jumlah larik (baris) di dalam satu bait.

•    Guru Lagu merupakan persamaan bunyi sajak di akhir kata di dalam setiap larik (baris).

•    Guru Wilangan merupakan banyaknya jumlah wanda (suku kata) di dalam setiap larik (baris).

Untuk mempermudah membedakan guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan dari tembang-tembang atau lagu macapat tadi, maka mampu dibuat tabel seperti selanjutnya :

Dengan ada ketentuan bersifat Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Bilangan maka tembang macapat dibedakan jadi 11 tipe tembang.

Jenis Tembang Macapat beserta penjelasannya serta dilengkapi dengan Guru Gatra, Guru Lagu, dan Guru Bilangan
1.    Tembang Pocung (Pucung)

Kata pocung (pucung) berasal dari kata ‘pocong’ yang melukiskan saat seseorang sudah meninggal yang dikafani atau dipocong sebelum saat dikuburkan. Filosofi dari tembang pocung perlihatkan berkenaan sebuah ritual sementara melepas kepergian seseorang.

Dari segi pandang lain ada yang menafsirkan pucung merupakan biji kepayang (pengium edule). Di dalam  Serat Purwaukara, pucung memiliki arti kudhuping gegodhongan (kuncup dedaunan) yang biasanya nampak segar.

Ucapan cung di dalam kata pucung cenderung mengarah terhadap hal-hal yang lucu sifatnya, yang mampu mengundang kesegaran, seandainya kucung dan kacung. Biasanya tembang pucung digunakan untuk menceritakan lelucon dan beraneka nasehat. Pucung menceritakan berkenaan kebebasan dan tindakan sesuka hati, agar pucung berwatak atau biasa digunakan di dalam situasi santai.

Contoh Tembang Pocung (12u – 6a – 8i – 12a)

Ngelmu iku kelakone kanthi laku
Lekase lawan kas
Tegese kas nyantosani
Setya budya pengekesing dur angkara

 

Berikut penjelasan berkenaan ketentuan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang pucung.

1. Guru gatra = 4

Artinya tembang Pocung ini memiliki 4 larik kalimat.

2. Guru wilangan = 12, 6, 8, 12

Maksudnya setiap kata-kata harus membawa suku kata seperti di atas. Kalimat pertama berjumlah 12 suku kata. Kalimat kedua berjumlah 6 suku kata. Kalimat ketiga berjumlah 8 suku kata. Kalimat keempat berjumlah 12 suku kata.

3. Guru lagu = u, a, i, a

Maksudnya adalah akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal u, a, i, a.
Berikut ini adalah umpama tembang pucung.

Ngelmu iku kelakone kanthi laku -> u
Lekase lawan kas -> a
Tegese kas nyantosani -> i
Setya budya pengekesing dur angkara -> a

2.   Tembang Maskumambang

 

Tembang Maskumambang menceritakan sebuah filosofi hidup manusia dari mulainya manusia diciptakan. Sosok manusia yang tetap bersifat embrio di di dalam kandungan, yang tetap belum diketahui jati dirinya, serta belum diketahui apakah dia laki-laki atau perempuan.

Dari segi pandangan lain Maskumambang berasal dari kata ‘mas’ dan ‘kumambang’. Asal kata ‘mas’ berasal dari kata Premas yang artinya Punggawa di dalam upacara Shaministis.

Kata ‘kumambang’ berasal dari kata kambang dengan sisipan -um. Kambang sendiri asalnya dari kata ambang yang artinya terapung. Kambang terhitung artinya Kamwang yang artinya kembang.

Ambang berkaitannya dengan Ambangse yang artinya menembang. Dengan demikianlah Maskumambang mampu diartikan punggawa yang jalankan upacara Shamanistis, mengucap mantra atau lafal dengan menembang disertai sajian bunga.

Di di dalam Serat Purwaukara, Maskumambang artinya Ulam Toya yang berati ikan air tawar, agar kadang-kadang diisyaratkan dengan lukisan atau ikan berenang.

Watak Maskumambang yaitu meiliki uraian perasaan sedih atau kedukaan, dan terhitung situasi hati yang sedang di dalam situasi nelangsa.

Contoh Tembang Maskumambang ( 12i – 6a – 8i – 8o )

Wong tan manut pitutur wong tuwa ugi
Ha nemu duraka
Ing donya tumekeng akhir
Tan wurung kasurang-surang

Tembang Maskumambang di atas menceritakan berkenaan hidup seseorang yang tidak mematuhi nasehat orang tua, maka dia bakal hidup sengsara dan menderita di dunia dan akhirat.

Berikut penjelasan berkenaan ketentuan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang maskumambang.

1. Guru gatra = 4

Artinya tembang maskumambang ini memiliki 4 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 12, 6, 8, 8

Kalimat pertama berjumlah 12 suku kata. Kalimat kedua berjumlah 6 suku kata. Kalimat ketiga berjumlah 8 suku kata. Kalimat keempat berjumlah 8 suku kata.pengertian tembang macapat

3. Guru lagu = i, a, i, o

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal i, a, i, o.

3.    Tembang Megatruh

Kata Megatruh berasal dari kata ‘megat’ dan ‘roh’, artinya putusnya roh atau sudah terlepasnya roh dari tubuh. Filosofi yang terkandung di Megatruh adalah berkenaan perjalanan kehidupan manusia yang sudah selesai di dunia.

Dari segi pandang lain Megatruh berasal dari awalan -am, pegat dan ruh. Dalam serat Purwaukara, Megatruh memiliki arti mbucal kan sarwa ala (membuang apa-apa yang sifatnya jelek).

Kata pegat ada hubungannya dengan peget yang artinya istana, tempat tinggal. Pameget atau pemegat artinya jabatan. Samgat atau samget artinya jabatan ahli atau guru agama. Dapat diartikan Megatruh membawa arti petugas yang ahli di dalam kerohanian yang tetap menjauhi perbuatan jahat.

Watak tembang Megatruh yaitu berkenaan kesedihan dan kedukaan. Biasanya menceritakan berkenaan kehilangan harapan dan rasa putus asa.pengertian tembang macapat

Contoh Tembang Megatruh (12u – 8i – 8u – 8i – 8o)

Kabeh iku mung manungsa kang pinujul
Marga duwe lahir batin
Jroning urip iku mau
Isi ati klawan budi
Iku pirantine ewong

 

Berikut penjelasan berkenaan ketentuan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Megatruh .

1. Guru gatra = 5

Tembang Megatruh ini memiliki 5 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 12, 8, 8, 8, 8

Kalimat pertama berjumlah 12 suku kata. Kalimat kedua berjumlah 8 suku kata. Kalimat ketiga berjumlah 8 suku kata. Kalimat keempat berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke lima berjumlah 8 suku kata.

3. Guru lagu = u, i, u, i, o

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal u, i, u, i, o.

4.    Tembang Gambuh

Kata Gambuh memiliki arti menyambungkan. Filosofi tembang Gambuh ini menceritakan berkenaan perjalanan hidup dari seseorang yang sudah bertemu  dengan pasangan hidupnya yang cocok. Keduanya dipertemukan untuk menjalin ikatan yang lebih sakral yaitu dengan pernikahan. Sehingga keduanya bakal memiliki kehidupan yang langgeng.

Dari segi pandang lain Gambuh artinya roggeng tahu, terbiasa, dan nama tumbuhan. Berkaitan dengan hal ini, tembang Gambuh memiliki watak atau biasa digunakan di dalam situasi yang sudah tentu atau tidak ragu-ragu, maknanya kesiapan pergerakan maju menuju medan yang sebenarnya.

Watak Gambuh terhitung melukiskan berkenaan keramahtamahan dan berkenaan persahabatan. Tembang Gambuh biasanya terhitung digunakan untuk menyampaikan cerita-cerita kehidupan.pengertian tembang macapat

Contoh Tembang Gambuh (7u – 10u – 12i – 8u – 8o)

Lan sembah sungkem ipun
Mring Hyang Sukma elinga sireku
Apan titah sadaya amung sadermi
Tan welangsira andhaku
Kabeh kagungan Hyang Manon

Berikut penjelasan berkenaan ketentuan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Gambuh .

1. Guru gatra = 5

Tembang Gambuh memiliki 5 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 7, 10, 12, 8, 8

Kalimat pertama berjumlah 7 suku kata. Kalimat ke dua berjumlah 10 suku kata. Kalimat ke tiga berjumlah 12 suku kata. Kalimat ke empat berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke lima berjumlaj 8 suku kata.

3. Guru lagu = u, u, i, u, o

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal u, u, i, u, o.

5.    Tembang Mijil

Tembang Mijil memiliki filosofi yang melambangkan wujud sebuah biji atau benih yang lahir di dunia. Mijil jadi lambang dari awal mula dari perjalanan seorang anak manusia di dunia fana ini, dia begitu suci dan lemah  agar tetap membutuhkan perlindungan.

Dari segi pandang lain Mijil artinya keluar. Selain itu berhubungan terhitung dengan wijil yang membawa arti mirip dengan lawang atau pintu. Lawang terhitung artinya nama sejenis tumbuh-tumbuhan yang wangi bunganya.

Watak tembang Mijil yaitu melukiskan keterbukaan yang tepat untuk mengeluarkan nasehat, cerita-cerita dan terhitung asmara.pengertian tembang macapat

Contoh Tembang Mijil (10i – 6o – 10e – 10i – 6i – 6o)

Dedalanne guna lawan sekti
Kudu andhap asor
Wani ngalah dhuwur wekasane
Tumungkula yen dipundukanni
Ruruh sarwa wasis
Samubarangipun

Tembang Mijil di atas menceritakan  berkenaan bagaimana jadi sosok orang yang baik, rendah hati, dan terhitung ramah.

 

Berikut penjelasan berkenaan ketentuan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Mijil .

1. Guru gatra = 6

Tembang Mijil memiliki 6 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 10, 6, 10, 10, 6, 6

Kalimat pertama berjumlah 10 suku kata. Kalimat ke dua berjumlah 6 suku kata. Kalimat ke tiga berjumlah 10 suku kata. Kalimat ke empat berjumlah 10 suku kata. Kalimat ke lima berjumlaj 6 suku kata. Kalimat ke enam 6 suku kata.

3. Guru lagu = i, o, e, i, i, o

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal i, o, e, i, i, o.

6.    Tembang Kinanthi

 

Kinanthi berasal dari kata ‘kanthi’ yang artinya menggandeng atau menuntun. Tembang Kinanthi memiliki filosofi hidup yang mengisahkan kehidupan seorang anak yang tetap membutuhkan tuntunan agar mampu berlangsung dengan baik di dunia ini.

Seorang anak tidak hanya membutuhkan tuntutan untuk studi berjalan, namun tuntunan secara penuh. Tuntunan itu meliputi tuntunan di dalam beraneka norma dan kebiasaan yang berlaku agar mampu dipatuhi dan dilaksanakan terhadap kehidupan dengan baik.

Watak tembang Kinathi yaitu melukiskan perasaan senang, teladan yang baik, nasehat serta kasih sayang. Tembang Kinanthi digunakan untuk menyampaikan suatu cerita atau kisah yang berisi nasehat yang baik serta berkenaan kasih sayang.pengertian tembang macapat

Contoh Tembang Kinanthi (8u – 8i – 8a – 8i – 8a – 8i)

Kukusing dupa kumelun
Ngeningken tyas kang apekik
Kawengku sagung jajahan
Nanging saget angikipi
Sang resi kaneka putra
Kang anjog saking wiyati

 

Berikut penjelasan berkenaan ketentuan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Kinanthi .

1. Guru gatra = 6

Tembang Kinanthi memiliki 6 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 8, 8, 8, 8, 8, 8,

Kalimat pertama berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke dua berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke tiga berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke empat berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke lima berjumlaj 8 suku kata. Kalimat ke enam 8 suku kata.

3. Guru lagu = u, i, a, i, a, i

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal u, i, a, i, a, i

7.    Tembang Asmarandana

Tembang Asmarandana berasal dari kata ‘asmara’ yang artinya cinta kasih. Filosofi tembang Asmarandana adalah berkenaan perjalanan hidup manusia yang sudah waktunya untuk memadu cinta kasih dengan pasangan hidup.

Dari segi pandang lain Asmaradana berasal dari kata asmara dan dhana. Asmara merupakan nama dewa percintaan. Dhana berasal dari kata dahana yang artinya api.

Asmaradana berkenaan dengan kajidian hangusnya dewa Asmara yang disebabkan oleh sorot mata ketiga dewa Siwa seperti yang dituliskan di dalam Kakawin Smaradhana karya Mpu Darmaja. Dalam Serat Purwaukara Smaradhana diberi arti remen ing paweweh, artinya bahagia memberi.

Watak Asmarandana yaitu melukiskan cinta kasih, asmara dan terhitung rasa pilu atau rasa sedih.

Contoh Tembang Asmarandana (8i – 8a – 8e – 7a – 8a – 8u – 8a)

Lumrah tumrap wong ngaurip
Dumunung sadhengah papan
Tan ngrasa cukup butuhe
Ngenteni rejeki tiba
Lamun tanpa makarya
Sengara mampu kepthuk
Kang mangkono bundhelana

 

Berikut penjelasan berkenaan ketentuan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Asmarandana .

1. Guru gatra = 7

Tembang Asmarandana memiliki 7 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 8, 8, 8, 7, 8, 8, 8

Kalimat pertama berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke dua berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke tiga berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke empat berjumlah 7 suku kata. Kalimat ke lima berjumlaj 8 suku kata. Kalimat ke enam berjumlah 8 suku kata, Kalimat ke tujuh berjumlah 8 suku kata.pengertian tembang macapat

3. Guru lagu = i, a, e, a, a, u, a

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal i, a, e, a, a, u, a.

8.    Tembang Durma

Durma memiliki arti pemberian. Tembang Durma mempunyai kandungan filosofi berkenaan kehidupan yang suatu sementara mampu mengalami duka, selisih dan terhitung kekurangan bakal sesuatu.

Tembang Durma mengajarkan agar di dalam hidup ini manusia mampu saling berikan dan melengkapi satu mirip lain agar kehidupan mampu seimbang. Saling tolong menolong kepada siapa saja dengan hati yang ikhlas adalah nilai kehidupan yang harus tetap dijaga.

Dari segi lain Durma berasal dari kata Jawa klasik yang memiliki arti harimau. Dengan begitu Durma memiliki watak atau biasa digunakan di dalam situasi seram. Dapat dikatakan tembang Durma seperti lagu yang digunakan di sementara bakal maju perang.

Dapat diartikan tembang Durma terhitung memilki watak yang tegas, keras dan penuh dengan amarah yang bergejolak.

Contoh Tembang Durma (12a – 7i – 6a – 7a – 8i – 5a – 7i)

Ayo kanca gugur gunung bebarengan
Aja ana kang mangkir
Amrih kasembadan
Tujuan pembangunan
Pager apik dalan resik
Latar gumelar
Wisma asri kaeksi

 

Berikut penjelasan berkenaan ketentuan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Durma .

1. Guru gatra = 7

Tembang Durma memiliki 7 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 12, 7, 6, 7, 8, 5, 7

Kalimat pertama berjumlah 12 suku kata. Kalimat ke dua berjumlah 7 suku kata. Kalimat ke tiga berjumlah 6 suku kata. Kalimat ke empat berjumlah 7 suku kata. Kalimat ke lima berjumlaj 8 suku kata. Kalimat ke enam berjumlah 5 suku kata. Kalimat ke tujuh berjumlah 7 suku kata.

3. Guru lagu = a, i, a, a, i, a, i

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal a, i, a, a, i, a, i.

9.    Tembang Pangkur

Pangkur berasal dari kata ‘mungkur’ yang memiliki arti pergi atau meninggalkan. Tembang Pangkur memiliki filosofi yang melukiskan kehidupan yang mestinya mampu menjauhi beraneka hawa nafsu dan angkara murka.

Di sementara mendapati sesuatu yang tidak baik hendaknya pergi menjauhi dan meninggalkan yang tidak baik tersebut. Tembang Pangkur menceritakan berkenaan seseorang yang sudah siap untuk meninggalkan segala sesuatu yang bersifat keduniawian dan coba mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dari segi pandang lain, Pangkur berasal dari kata punggawa di dalam kalangan kependetaan seperti dicantumkan di di dalam piagam-piagam bhs Jawa kuno.

Dalam Serat Purwaukara, Pangkur memiliki arti buntut atau ekor. Karena itu Pangkur kadang-kadang diberi sasmita atau tanda tut pungkur yang artinya mengekor, tut wuri dan tut wuntat yang artinya mengikuti.

Watak tembang Pangkur melukiskan karakter yang gagah, kuat, perkasa dan hati yang besar. Tembang Pangkur cocok digunakan untuk mengisahkan kisah kepahlawanan, perjuangan serta peperangan.pengertian tembang macapat

Contoh Tembang Pangkur (8a – 11i – 8u – 7a – 8i – 5a – 7i)

Muwah ing sabarang karya
Ingprakara gedhe kalawan cilik
Papat iku datan kantun
Kanggo sadina-dina
Lan ing wengi nagara miwah ing dhusun
Kabeh kang padha ambegan
Papat iku nora lali

 

Berikut penjelasan berkenaan ketentuan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Pangkur .

1. Guru gatra = 7

Tembang Pangkur memiliki 7 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 8, 11, 8, 7, 8, 5, 7

Kalimat pertama berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke dua berjumlah 11 suku kata. Kalimat ke tiga berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke empat berjumlah 7 suku kata. Kalimat ke lima berjumlaj 8 suku kata. Kalimat ke enam berjumlah 5 suku kata. Kalimat ke tujuh berjumlah 7 suku kata.

3. Guru lagu = a, i, u, a, i, a, i

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal a, i, u, a, i, a, i.

Baca terhitung kumpulan Tembang Macapat Pangkur

10.    Tembang Sinom

Kata Sinom memiliki arti pucuk yang baru tumbuh dan bersemi. Filosofi tembang Sinom melukiskan seorang manusia yang terasa beranjak dewasa dan sudah jadi pemuda atau remaja yang terasa tumbuh.

Di sementara jadi remaja, tugas mereka adalah menuntut pengetahuan sebaik barangkali dan setinggi-tingginya agar mampu jadi bekal kehidupan yang lebih baik kelak.

Dari segi pandang lain Sinom ada hubungannya dengan kata sinoman, yang memiliki arti perkumpulan para pemuda untuk menolong orang yang sedang memiliki hajat.

Ada terhitung yang berpendapat lain yang perlihatkan bahwa sinom berkenaan dengan upacara bagi anak-anak muda zaman dulu. Bahkan sinom terhitung mampu merujuk terhadap daun pepohonan yang tetap muda (kuncup), agar kadang-kadang diberi tanda dengan mengfungsikan lukisan daun muda. Di di dalam Serat Purwaukara, Sinom artinya seskaring rambut yang memiliki arti anak rambut.pengertian tembang macapat

Contoh Tembang Sinom (8a – 8i – 8a – 8i – 7i – 8u – 7a – 8i – 12a)

Punika serat kawula
Katura sira wong kuning
Sapisan salam pandonga
Kapindo takon pawarti
Jare sirarsa laki
Ingsun mung sewu jumurung
Amung ta wekasi wang
Gelang alit mungging driji
Lamun sida aja lali kalih kula

 

Berikut penjelasan berkenaan ketentuan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Sinom .

1. Guru gatra = 9

Tembang Sinom memiliki 9 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 8, 8, 8, 8, 7, 8, 7, 8, 12

Kalimat pertama berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke dua berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke tiga berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke empat berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke lima berjumlaj 7 suku kata. Kalimat ke enam berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke tujuh berjumlah 7 suku kata. Kalimat ke delapan berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke sembilan berjumlah 12 suku kata.

3. Guru lagu = a, i, a, i, i, u, a, i, a

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal a, i, a, i, i, u, a, i, a.

11.   Tembang Dhandhanggula

Kata Dhandhanggula berasal dari kata ‘dandang’ dan ‘gula’ yang artinya sesuatu yang manis. Filosofi tembang Dhandhanggula melukiskan berkenaan kehidupan pasangan baru yang sedang berbahagia dikarenakan sudah berhasil mendapatkan apa yang dicita-citakan.

Kehidupan manis merupakan suatu yang dirasakan dengan keluraga yang terasa begitu membahagiakan.
Dari segi pandang lain Dhandhanggula diambil alih dari nama raja Kediri yaitu Prabu Dhandhanggendis yang terkenal sehabis Prabu Jayabaya. Dalam Serat Purwaukara, Dhandhanggula artinya ngajeng-ajeng kasaean yang memiliki arti menanti-nantikan kebaikan.pengertian tembang macapat

Watak tembang Dhandhanggula yaitu menggambarkan  karakter yang lebih universal atau luwes dan merasuk ke di dalam hati. Tembang Dhandhanggula mampu digunakan untuk mengatakan kisah di dalam beraneka hal dan situasi apa pun.

Contoh tembang dhandanggula (10i – 10a – 8e – 7u – 9i – 7a – 6u – 8a – 12i – 7a)

Sinengkuyung sagunging prawali
Janma tuhu sekti mandra guna
Wali sanga nggih arane
Dhihin Syeh Magrib tuhu
Sunan ngampel kang kaping kalih
Tri sunan bonang ika
Sunan giri catur
Syarifudin sunan drajat
Anglenggahi rangkaian gangsal sayekti
Iku ta warnanira

 

Berikut penjelasan berkenaan ketentuan guru gatra, guru lagu dan guru wilangan dari tembang Dhandhanggula .

1. Guru gatra = 10

Tembang Dhandhanggula memiliki 10 larik atau baris kalimat.

2. Guru wilangan = 10, 10, 8, 7, 9, 7, 6, 8, 12, 7

Kalimat pertama berjumlah 10 suku kata. Kalimat ke dua berjumlah 10 suku kata. Kalimat ke tiga berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke empat berjumlah 7 suku kata. Kalimat ke lima berjumlaj 9 suku kata. Kalimat ke enam berjumlah 7 suku kata. Kalimat ke tujuh berjumlah 6 suku kata. Kalimat ke delapan berjumlah 8 suku kata. Kalimat ke sembilan berjumlah 12 suku kata. Kalimat ke sepuluh berjumlah 7 suku kata.

3. Guru lagu = i, a, e, u, i, a, u, a, i, a

Akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal i, a, e, u, i, a, u, a, i, a.

 

Tembang macapat sampai sekarang tetap cukup populer. Di sekolah terhitung tetap diajarkan lebih-lebih ada terhitung yang sampai diperlombakan. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat baik untuk merawat dan melestarikan tembang macapat.