Pakaian Adat Papua

pakaian adat papua – Keuntungan Indonesia sebagai negara kepulauan yang amat luas menjadikannya punyai tradisi, budaya, dan juga etnis yang beragam. Salah satunya adalah Papua yang merupakan provinsi paling timur di Indonesia dan berbatasan langsung bersama Papua Nugini.

Pulau Irian atau Papua punyai kultur yang amat unik. Baik dari tradisi, kebiasaan, bahasa, makanan, hingga busana tradisional yang dikenakan.

Koteka adalah busana tradisi Papua yang dikenal di semua nusantara. Namun sebenarnya ada beraneka varian lain dari busana tradisi Papua dan keseluruhannya mempunyai keunikan dan arti tertentu dibaliknya penggunaannya.

Pakaian Adat Papua

Pakaian tradisi untuk laki-laki Papua amat sederhana, tidak banyak aksesoris yang digunakan. Pakaian tradisional maupun aksesorisnya terbuat dari bahan-bahan yang sanggup didapat dari alam sekitar, baik berasal dari flora maupun fauna.

1. Pakaian Adat Suku Holim

Setidaknya ada 255 suku asli yang bermukim di provinsi Papua dan Papua Barat. Salah satu yang paling dikenal adalah Suku Dani. Para pria dari Suku Dani kerap mengenakan Pakaian Holim yang lebih dikenal bersama sebutan Koteka.

Fungsi Koteka ialah untuk menutupi daerah kemaluan pria dan busana ini normal digunakan. Suku di Papua lainnya juga ada yang pakai Koteka walau bentuknya berbeda-beda dan juga penyebutannya juga sanggup tidak serupa di tiap suku. Bagi lebih dari satu suku, busana tradisional ini disebut juga sebagai hilon, bobbe dan harim.

Terbuat dari kulit labu air, Koteka sanggup dikenakan sehari-hari maupun saat diselenggarakannya upacara adat. Cara mengenakannya ialah bersama diikat ke pinggang bersama tali.

Koteka yang dikenakan sehari-hari ukurannya pendek dan tanpa ukiran. Sementara untuk upacara adat, Koteka yang dikenakan kebanyakan dilengkapi bersama ukiran etnik khas Papua dan juga ukurannya pun lebih panjang.

Seiring bersama berjalannya waktu, Koteka terasa jarang dikenakan. Bahkan pemakaian Koreka dilarang di daerah lazim layaknya di kendaraan lazim atau sekolah. Pelarangan pemakaian Koteka ini awalannya memetik pro dan kontra sebab tidak disertai bersama penjelasan yang tepat dan menyeluruh.

Saat ini kita masih sanggup lihat orang-orang Papua pakai Koteka saat upacara adat. Selain itu, Koteka juga sanggup ditemukan di toko souvenir. Banyak turis dari di dalam maupun luar negeri belanja Koteka sebagai oleh-oleh atau kenang-kenangan kunjungan mereka ke Papua. Saat ini, kaum pria lebih banyak mengenakan celana biasa, baik celana pendek maupun panjang di dalam kesibukan sehari-hari.

2. Rok Rumbai Pria

Pria Papua kebanyakan bertelanjang dada dan mengenakan celana rumbai yang terbuat dari daun sagu. Panjang rok rumbai ini kebanyakan cuma semata-mata lutut.

Untuk melengkapi penampilan, pria Papua mengenakan aksesoris lain bersifat gelang dan kalung yang terbuat dari taring babi atau gigi anjing. Ada juga yang pakai bulu burung cendrawasih. Aksesoris ini melambangkan kejantanan pria sejati.

Saat ini, sebelum akan mengenakan Rok Rumbai, kaum pria kebanyakan kenakan celana pendek lebih-lebih dahulu, lantas anggota luarnya kenakan celana rumbai.

3. Rumbai Kepala

Untuk hiasan kepala, kaum pria Papua juga mengenakan aksesoris yang terbuat dari bulu burung kasuari berwarna coklat dan bulu kelinci berwarna putih. Bulu kelinci ada di anggota bawah, saat bulu kasuari yang panjang di anggota atas. Bentuknya menyerupai mahkota yang indah.

4. Tas Noken

Tas noken adalah tas yang terbuat dari kulit kayu yang dianyam. Tas ini dikenakan masyarakat Papua di belakang punggung, layaknya tas ransel. Tas Noken sanggup dikenakan baik oleh pria maupun wanita.

Fungsinya adalah untuk menyimpan hasil berkebun, layaknya sayur-mayur, umbi-umbian, dan buah-buahan. Tas Noken juga sanggup digunakan untuk menyimpan hasil buruan, seandainya kelinci, burung, atau tikus.

Pakaian Adat Wanita Papua

Baju tradisi kaum wanita di Papua jenisnya lebih beragam, tetapi selalu muncul sederhana. Meskipun demikian, pembuatannya tidaklah mudah, sebab dibikin langsung bersama tangan. Sama layaknya busana tradisi pria, bahan-bahannya juga sanggup ditemukan di alam sekitar.

1. Pakaian Sali

Khusus untuk wanita Papua yang masih lajang, sanggup mengenakan Pakaian Sali. Pakaian unik ini terbuat dari bahan kulit pohon. Untuk menghasilkan Pakaian Sali yang sempurna, cuma dipilih kulit pohon berwarna coklat.

2. Rok Rumbia

Sama layaknya rok rumbai yang dikenakan kaum pria Papua, Rok Rumbia juga terbuat dari daun sagu yang udah dikeringkan. Biasanya Rok Rumbia berukuran lebih panjang, yaitu menggapai lutut atau apalagi di bawah lutut.

Dulunya Rok Rumbia cuma dikenakan untuk menutupi tubuh anggota bawah, tetapi bersamaan bersama perkembangan jama saat ini dibikin juga atasan untuk wanita dari bahan yang sama.

3. Yokai

Jika wanita lajang kenakan Pakaian Sali, maka untuk wanita yang udah berkeluarga sanggup mengenakan Yokai. Pakaian ini lebih-lebih dikenakan di daerah pedalaman Papua Barat. Yokai tidak diperjualbelikan di toko souvenir atau di mana pun juga, sebab merupakan lambang masyarakat Papua.

Makna busana tradisi ini ialah kedekatan masyarakat Papua bersama alam. Yokai berwarna coklat agak kemerahan dan dikenakan sebagai atasan yang dikombinasikan bersama Rok Rumbia.

Aksesoris Baju Adat Papua

Untuk melengkapi pemakaian busana tradisional Papua, maka dikenakan pula aksesoris yang diperoleh dari alam sekitar, antara lain:

Gigi Anjing dan Taring Babi – Gigi anjing dikenakan oleh orang-orang papua sebagai kalung, namun ataring babi dikenakan sebagai tindik diantara lubang hidung.
Hiasan Rumbai Kepala – Kepala suku-suku Papua kebanyakan dihiasi bersama rumbai-rumbai yang dibentuk layaknya mahkota. Rumbai ini kebanyakan terbuat dari bulu kelinci dan juga bulu burung kasuari.
Tas Noken – Tas noken adalah tas yang terbuat dari anyamat tumbuhan, yaitu kulit kayu. Tas ini sanggup digunakan untuk beraneka keperluan, layaknya menyimpan buah, umbi-umbian, sayur, dan juga hasil buruan di hutan. Tas ini biasa dipakai bersama langkah diikat di kepala atau diselempangkan. Tas noken terkenal digunakan oleh suku Asma bersama sebutan Esse.

Senjata Tradisional Papua

Penggunaan senjata tradisional di masyarakat Papua amat erat kaitannya bersama kehidupan sehari-hari. Senjata tradisional ini juga digunakan untuk melengkapi busana tradisi Papua, antara lain:

a. Tombak

adalah senjata tradisional Papua yang digunakan untuk berburu hewan secara jarak jauh. Senjata ini terbuat dari kayu dan batu yang ujungnya diruncingkan, tidak cuman itu ujung tombak juga biasa dibikin dari tulang. Seiring perkembangan zaman, mata tombak saat ini terbuat dari bahan logam. Tak jarang, saat berburu mereka memberi tambahan racun di mata tombak untuk membawa dampak hewan buruan lumpuh atau mati.

b. Busur dan Anak Panah

Selain tombak, banyak suku Papua yang pakai busur atau panah untuk berburu dan berperang antar suku. Sama layaknya ujung tombang, ujung mata panah seringkali juga diberi racun sehingga memberi tambahan pengaruh lumpuh dan mematikan. Bahan pembuatan busur yaitu kayu, bambu, dan juga tulang yang diruncingkan.

c. Belati

Pisau atau belati Papua kebanyakan terbiat dari tulang burung kasuari yang diasah dan jadi amat tajam. Saat membawa dampak pisau ini diberi aksesoris dari bulu burung kasuari dan juga racun pada ujung pisau sehingga efisien digunakan saat berburu.

d. Kapak

Kapak adalah senjata tradisional Papua yang kebanyakan digunakan untuk bertani, berladang atau berkebun. Kapak juga digunakan untuk menebas lebatnya hutan Papua sehingga suku-suku ini sanggup berpindah. Kapak Papua biasanay terbuat dari rotan dan mata kapak terbuat dari batu yang ditajamkan.

Pakaian Adat Papua Modern

Seiring berjalannya waktu, Suku Papua pun punyai lebih dari satu busana tradisi yang ikuti perkembangan norma dan aturan. Pakaian tradisi Papua yang lebih moderen kebanyakan cuma dikenakan pada saat upacara adat. Jenis busana tradisional ini sanggup diperjualbelikan, tetapi ada juga yang tidak.

1. Baju Kani Rumput

Baju Kani Rumput adalah keliru satu busana tradisi Papua modern. Baju Kani Rumput berasal dari wilayah Sorong Selatan. Baju Kani Rumput sanggup dikenakan oleh pria maupun wanita.

Sama layaknya Rok Rumbia, Baju Kani Rumput juga terbuat dari daun sagu yang udah dikeringkan. Penggunaan daun sagu juga tidak sembarangan, yaitu kudu diambil alih saat air laut tengah pasang. Daun sagu yang dipilih adalah anggota pucuknya.

Setelah dikeringkan, daun sagu selanjutnya dianyam bersama tangan. Penganyaman ini pakai kayu selama 1 mtr. untuk mengaitkan ujung tali.

Karena pakai bahan pilihan dan sistem pembuatan yang tidak mudah, harga Baju Kani Rumput juga cukup tinggi. Untuk rok harganya menggapai Rp 500 ribu. Sementara untuk 1 set bersama atasan, harganya menggapai 2 kali lipatnya.

Baju Kani Rumput cuma dikenakan saat upacara adat, seandainya saat pesta mengantar mas kawin. Baju Kani Rumput ini juga biasa diperjualbelikan untuk souvenir atau oleh-oleh.

2. Baju Kurung Papua

Baju Kurung adalah busana tradisional yang mendapat pengaruh dari budaya di luar Papua, dan juga sekaligus jadi busana tradisi moderen Papua. Baju Kurung lebih-lebih dipakai oleh kaum wanita, lebih-lebih yang menetap di lebih kurang kita Manokwari.

Baju Kurung khas Papua ini terbuat dari kain beludru. Biasanya dilengkapi bersama hiasan bersifat rumbai bulu di anggota leher, lengan, atau pinggang. Baju Kurung biasa dikombinasikan bersama Rok Rumbia dan dikenakan pada acara adat.

Untuk mempercantik penampilan, kaum wanita Papua biasa memberi tambahan aksesoris bersifat gelang dan kalung. Aksesorisnya pun spesial, sebab terbuat dari bahan alam, yaitu biji-bijian yang dirangkai bersama benang. Untuk melengkapi penampilan, dikenakan juga penutup kepala yang terbuat dari bulu burung kasuari.

Keuntungan Indonesia sebagai negara kepulauan yang amat luas menjadikannya punyai tradisi, budaya, dan juga etnis yang beragam. Salah satunya adalah Papua yang merupakan provinsi paling timur di Indonesia dan berbatasan langsung bersama Papua Nugini.

Pulau Irian atau Papua punyai kultur yang amat unik. Baik dari tradisi, kebiasaan, bahasa, makanan, hingga busana tradisional yang dikenakan.

Koteka adalah busana tradisi Papua yang dikenal di semua nusantara. Namun sebenarnya ada beraneka varian lain dari busana tradisi Papua dan keseluruhannya mempunyai keunikan dan arti tertentu dibaliknya penggunaannya.

Daftar Isi

Pakaian Adat Pria Papua

Pakaian tradisi untuk laki-laki Papua amat sederhana, tidak banyak aksesoris yang digunakan. Pakaian tradisional maupun aksesorisnya terbuat dari bahan-bahan yang sanggup didapat dari alam sekitar, baik berasal dari flora maupun fauna.

1. Pakaian Adat Suku Holim

Setidaknya ada 255 suku asli yang bermukim di provinsi Papua dan Papua Barat. Salah satu yang paling dikenal adalah Suku Dani. Para pria dari Suku Dani kerap mengenakan Pakaian Holim yang lebih dikenal bersama sebutan Koteka.

Fungsi Koteka ialah untuk menutupi daerah kemaluan pria dan busana ini normal digunakan. Suku di Papua lainnya juga ada yang pakai Koteka walau bentuknya berbeda-beda dan juga penyebutannya juga sanggup tidak serupa di tiap suku. Bagi lebih dari satu suku, busana tradisional ini disebut juga sebagai hilon, bobbe dan harim.

Terbuat dari kulit labu air, Koteka sanggup dikenakan sehari-hari maupun saat diselenggarakannya upacara adat. Cara mengenakannya ialah bersama diikat ke pinggang bersama tali.

Koteka yang dikenakan sehari-hari ukurannya pendek dan tanpa ukiran. Sementara untuk upacara adat, Koteka yang dikenakan kebanyakan dilengkapi bersama ukiran etnik khas Papua dan juga ukurannya pun lebih panjang.

Seiring bersama berjalannya waktu, Koteka terasa jarang dikenakan. Bahkan pemakaian Koreka dilarang di daerah lazim layaknya di kendaraan lazim atau sekolah. Pelarangan pemakaian Koteka ini awalannya memetik pro dan kontra sebab tidak disertai bersama penjelasan yang tepat dan menyeluruh.

Saat ini kita masih sanggup lihat orang-orang Papua pakai Koteka saat upacara adat. Selain itu, Koteka juga sanggup ditemukan di toko souvenir. Banyak turis dari di dalam maupun luar negeri belanja Koteka sebagai oleh-oleh atau kenang-kenangan kunjungan mereka ke Papua. Saat ini, kaum pria lebih banyak mengenakan celana biasa, baik celana pendek maupun panjang di dalam kesibukan sehari-hari.

2. Rok Rumbai Pria

Pria Papua kebanyakan bertelanjang dada dan mengenakan celana rumbai yang terbuat dari daun sagu. Panjang rok rumbai ini kebanyakan cuma semata-mata lutut.

Untuk melengkapi penampilan, pria Papua mengenakan aksesoris lain bersifat gelang dan kalung yang terbuat dari taring babi atau gigi anjing. Ada juga yang pakai bulu burung cendrawasih. Aksesoris ini melambangkan kejantanan pria sejati.

Saat ini, sebelum akan mengenakan Rok Rumbai, kaum pria kebanyakan kenakan celana pendek lebih-lebih dahulu, lantas anggota luarnya kenakan celana rumbai.

3. Rumbai Kepala

Untuk hiasan kepala, kaum pria Papua juga mengenakan aksesoris yang terbuat dari bulu burung kasuari berwarna coklat dan bulu kelinci berwarna putih. Bulu kelinci ada di anggota bawah, saat bulu kasuari yang panjang di anggota atas. Bentuknya menyerupai mahkota yang indah.

4. Tas Noken

Tas noken adalah tas yang terbuat dari kulit kayu yang dianyam. Tas ini dikenakan masyarakat Papua di belakang punggung, layaknya tas ransel. Tas Noken sanggup dikenakan baik oleh pria maupun wanita.

Fungsinya adalah untuk menyimpan hasil berkebun, layaknya sayur-mayur, umbi-umbian, dan buah-buahan. Tas Noken juga sanggup digunakan untuk menyimpan hasil buruan, seandainya kelinci, burung, atau tikus.

Pakaian Adat Wanita Papua

Baju tradisi kaum wanita di Papua jenisnya lebih beragam, tetapi selalu muncul sederhana. Meskipun demikian, pembuatannya tidaklah mudah, sebab dibikin langsung bersama tangan. Sama layaknya busana tradisi pria, bahan-bahannya juga sanggup ditemukan di alam sekitar.

1. Pakaian Sali

Khusus untuk wanita Papua yang masih lajang, sanggup mengenakan Pakaian Sali. Pakaian unik ini terbuat dari bahan kulit pohon. Untuk menghasilkan Pakaian Sali yang sempurna, cuma dipilih kulit pohon berwarna coklat.

2. Rok Rumbia

Sama layaknya rok rumbai yang dikenakan kaum pria Papua, Rok Rumbia juga terbuat dari daun sagu yang udah dikeringkan. Biasanya Rok Rumbia berukuran lebih panjang, yaitu menggapai lutut atau apalagi di bawah lutut.

Dulunya Rok Rumbia cuma dikenakan untuk menutupi tubuh anggota bawah, tetapi bersamaan bersama perkembangan jama saat ini dibikin juga atasan untuk wanita dari bahan yang sama.

3. Yokai

Jika wanita lajang kenakan Pakaian Sali, maka untuk wanita yang udah berkeluarga sanggup mengenakan Yokai. Pakaian ini lebih-lebih dikenakan di daerah pedalaman Papua Barat. Yokai tidak diperjualbelikan di toko souvenir atau di mana pun juga, sebab merupakan lambang masyarakat Papua.

Makna busana tradisi ini ialah kedekatan masyarakat Papua bersama alam. Yokai berwarna coklat agak kemerahan dan dikenakan sebagai atasan yang dikombinasikan bersama Rok Rumbia.

Aksesoris Baju Adat Papua

Untuk melengkapi pemakaian busana tradisional Papua, maka dikenakan pula aksesoris yang diperoleh dari alam sekitar, antara lain:

Gigi Anjing dan Taring Babi – Gigi anjing dikenakan oleh orang-orang papua sebagai kalung, namun ataring babi dikenakan sebagai tindik diantara lubang hidung.
Hiasan Rumbai Kepala – Kepala suku-suku Papua kebanyakan dihiasi bersama rumbai-rumbai yang dibentuk layaknya mahkota. Rumbai ini kebanyakan terbuat dari bulu kelinci dan juga bulu burung kasuari.
Tas Noken – Tas noken adalah tas yang terbuat dari anyamat tumbuhan, yaitu kulit kayu. Tas ini sanggup digunakan untuk beraneka keperluan, layaknya menyimpan buah, umbi-umbian, sayur, dan juga hasil buruan di hutan. Tas ini biasa dipakai bersama langkah diikat di kepala atau diselempangkan. Tas noken terkenal digunakan oleh suku Asma bersama sebutan Esse.
Senjata Tradisional Papua

Penggunaan senjata tradisional di masyarakat Papua amat erat kaitannya bersama kehidupan sehari-hari. Senjata tradisional ini juga digunakan untuk melengkapi busana tradisi Papua, antara lain:

a. Tombak

adalah senjata tradisional Papua yang digunakan untuk berburu hewan secara jarak jauh. Senjata ini terbuat dari kayu dan batu yang ujungnya diruncingkan, tidak cuman itu ujung tombak juga biasa dibikin dari tulang. Seiring perkembangan zaman, mata tombak saat ini terbuat dari bahan logam. Tak jarang, saat berburu mereka memberi tambahan racun di mata tombak untuk membawa dampak hewan buruan lumpuh atau mati.

b. Busur dan Anak Panah

Selain tombak, banyak suku Papua yang pakai busur atau panah untuk berburu dan berperang antar suku. Sama layaknya ujung tombang, ujung mata panah seringkali juga diberi racun sehingga memberi tambahan pengaruh lumpuh dan mematikan. Bahan pembuatan busur yaitu kayu, bambu, dan juga tulang yang diruncingkan.

c. Belati

Pisau atau belati Papua kebanyakan terbiat dari tulang burung kasuari yang diasah dan jadi amat tajam. Saat membawa dampak pisau ini diberi aksesoris dari bulu burung kasuari dan juga racun pada ujung pisau sehingga efisien digunakan saat berburu.

d. Kapak

Kapak adalah senjata tradisional Papua yang kebanyakan digunakan untuk bertani, berladang atau berkebun. Kapak juga digunakan untuk menebas lebatnya hutan Papua sehingga suku-suku ini sanggup berpindah. Kapak Papua biasanay terbuat dari rotan dan mata kapak terbuat dari batu yang ditajamkan.

Pakaian Adat Papua Modern

Seiring berjalannya waktu, Suku Papua pun punyai lebih dari satu busana tradisi yang ikuti perkembangan norma dan aturan. Pakaian tradisi Papua yang lebih moderen kebanyakan cuma dikenakan pada saat upacara adat. Jenis busana tradisional ini sanggup diperjualbelikan, tetapi ada juga yang tidak.

1. Baju Kani Rumput

Baju Kani Rumput adalah keliru satu busana tradisi Papua modern. Baju Kani Rumput berasal dari wilayah Sorong Selatan. Baju Kani Rumput sanggup dikenakan oleh pria maupun wanita.

Sama layaknya Rok Rumbia, Baju Kani Rumput juga terbuat dari daun sagu yang udah dikeringkan. Penggunaan daun sagu juga tidak sembarangan, yaitu kudu diambil alih saat air laut tengah pasang. Daun sagu yang dipilih adalah anggota pucuknya.

Setelah dikeringkan, daun sagu selanjutnya dianyam bersama tangan. Penganyaman ini pakai kayu selama 1 mtr. untuk mengaitkan ujung tali.

Karena pakai bahan pilihan dan sistem pembuatan yang tidak mudah, harga Baju Kani Rumput juga cukup tinggi. Untuk rok harganya menggapai Rp 500 ribu. Sementara untuk 1 set bersama atasan, harganya menggapai 2 kali lipatnya.

Baju Kani Rumput cuma dikenakan saat upacara adat, seandainya saat pesta mengantar mas kawin. Baju Kani Rumput ini juga biasa diperjualbelikan untuk souvenir atau oleh-oleh.

2. Baju Kurung Papua

Baju Kurung adalah busana tradisional yang mendapat pengaruh dari budaya di luar Papua, dan juga sekaligus jadi busana tradisi moderen Papua. Baju Kurung lebih-lebih dipakai oleh kaum wanita, lebih-lebih yang menetap di lebih kurang kita Manokwari.

Baju Kurung khas Papua ini terbuat dari kain beludru. Biasanya dilengkapi bersama hiasan bersifat rumbai bulu di anggota leher, lengan, atau pinggang. Baju Kurung biasa dikombinasikan bersama Rok Rumbia dan dikenakan pada acara adat.

Untuk mempercantik penampilan, kaum wanita Papua biasa memberi tambahan aksesoris bersifat gelang dan kalung. Aksesorisnya pun spesial, sebab terbuat dari bahan alam, yaitu biji-bijian yang dirangkai bersama benang. Untuk melengkapi penampilan, dikenakan juga penutup kepala yang terbuat dari bulu burung kasuari.